Archive for Mei, 2015

“Peran mahasiswa di kehidupan dunia kampus”

Mei 10, 2015

Gelar mahasiswa adalah gelar tertinggi dalam jenjang pendidikan formal. Setelah sebelumnya menyandang predikat siswa. Kenapa disebut mahasiswa? Banyak alasan: jika di lihat dari frase kata terdiri dari 2 suku kata yaitu maha dan siswa. Menurut saya mempunyai arti kedudukan tertinggi. Dari segi apapun terutama taraf berfikir yang semula menyadang siswa sejak mulai tk – sma. Kemudian berubah statusnya menjadi mahasiswa setelah berada di perguruan tinggi. Yang semula taraf berfikirnya kanak – kanak menjadi matang/lebih dewasa. Dunianya pun ikut berubah yang semula di TK disebut taman kanak – kanak, kemudian masuk SD – SMA dinamakan sekolah terus di Perguruan Tinggi dinamakan kampus. Diikuti dengan perubahan – perubahan yang lain dan itu pasti. Jika tidak ada perubahan ada kelainan. Perubahan itu banyak factor yang paling dominan factor keluarga. Peletak dasar pembentuk pemikiran mahasiswa, kemudian lingkungan dan Negara. Walaupun hal ini sepenuhnya tidak benar.
Perubahan secara drastis ketika menyandang Mahasiswa. Kemudian terjun ke dunia kampus yang sebelumnya, di dunia sekolah. Dunia kampus adalah dunia yang tidak bisa terlepas dari mahasiswa. Lebih layak disebut juga “kawahcandradimuka”. Mengapa? Karena di sinilah para intelektual di cetak yang nantinya menjadi pemimpin. Mulai pemimpin diri sendiri sampai Negara. Dunia kampus sangat berbeda 180% dengan dunia taman kanak – kanak maupun dunia sekolah. Dunia kampus tentu bukan dihuni oleh mahasiswa saja tapi juga ada dosen, dekan, rektor, dan karyawan. Membahas peran mahasiswa di dunia kampus sangat menarik sekali. Banyak sekali peran yang bisa dimainkan mahasiswa di dunia kampus. sebelum membahas beberapa peran yang bisa dimainkan mahasiswa di kampus. Catatan krusial: mahasiswa mempunyai peran ganda yaitu dunia luar dan dunia kampus. hal itu tidak mutlak benar tergantung individu mahasiswa juga. Mahasiswa bagi saya gelar yang sakral, mengapa? Karena banyak harapan tidak hanya lingkup mahasiswa tetapi semua lingkup, menaruh harapan besar di pundak Mahasiswa, sampai – sampai disematkan gelar mentereng “Agen of Change”. Gelar itu tentu bukan sembarang gelar bukan pula hanya sebatas symbol tetapi sudah terbukti. Yang sampai saat ini masih disematkan di pundak mahasiswa, harapannya jangan sampai gelar itu dicabut.
Dalam kehidupan kampus hal ini bisa kita lakukan dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat sehingga nantinya bisa berguna bagi kehidupan setelah keluar kampus. Tentu hal ini membutuhkan benteng agar tidak terombang – ambing oleh zaman. Idealnya mahasiswa jangan mengutamakan akademik saja tetapi juga ikut kegiatan yang lain di kampus banyak sekali kegiatan yang bisa untuk pengembangan diri. Dan juga harus peka terhadap permasalahan di luar spesialisasi kita dan selalu update informasi kemudian di share ke teman – teman sambil belajar untuk memecahkan masalah. Seperti kebijakan – kebijakan kampus yang merugikan mahasiswa atau pihak lain. Di sini peran mahasiswa diperlukan minimal sumbangsih pemikiran. Menjalin hubungan baik dengan alumni semua civitas akademika. Dan menyambut mahasiswa baru dan membimbing, mengarahkan yang kelak nanti menggantikannya. Mengingat mahasiswa sebagai penerus estafet kemimpinan bangsa jangan sia – siakan kesempatan emas sebagai mahasiswa untuk mengembangkan valensi diri. Mengingat Indonesia sekarang krisis kepemimpinan. Bisa disaksikan di berbagai media massa tingkah polah para pejabat(abdi negara)  yang mengiris logika. Hal ini yang mengetuk hati mahasiswa dan harus berazzam jika menjadi abdi Negara manjadi abdi yang amanah. Dan hal ini harus dipupuk sejak dini. Dalam segi akademik mayoritas pandai banyak yang bergelar S1, S2, S3 bahkan Prof. tetapi itu tidak cukup perlu juga pembinaan agama. Rata – rata ketika di kampus idealisme masih menggebu tetapi ketika kena rayuan duniawi idealismenya luntur. Setiap manusia yang beragama pasti punya pegangan dalam Islam : ada Al Quran dan agama yang lain juga ada. Gunakan itu sebagai landasan segala ucapan, sikap dan perbuatan.
Jangan sampai mahasiswa kita mengalami kekeringan spiritual. Spiritual harus selalu di charge selain itu ada mental dan fisik yang perlu juga di charge. Mental harus di bangun sebagai mahasiswa harus mempunyai mental baja yaitu keberanian dalam kebenaran membela yang haq dalam apapun tentu harus bertanggung – jawab. Yang terakhir adalah fisik mahasiswa harus punya fisik yang kuat tidak boleh sakit – sakitan karena dengan fisik yang kuat segala aktivitas bisa maksimal.
Memasuki dunia kampus terasa di dunia lain dengan segala dinamikanya. Suka duka selalu menyelimuti mahasiswa. Peran mahasiswa sangat vital di dunia kampus. dari mengurus pribadi sampai mengurus Negara nantinya. Boleh dibilang di dunia inilah jatidiri dibentuk setelah sekian lama berterbangan tak tahu arah. Karena di dunia kampus inilah kepribadian seseorang dibentuk maka itu dibutuhkan sinergi semua stakeholder kampus. paling dominan peran mahasiswa di dunia kampus adalah ikut serta mengawasi, mengontrol kebijakan kampus. hal itu mungkin sulit karena kita tahu di kampus banyak sekali organisasi dengan bendera masing – masing. Yang mana banyak bendera yang kadang dimanfaatkan pihak lain untuk kepentingan kelompoknya. Dunia kampus juga bisa dikatakan dunia dengan penuh warna. Hal itu suatu keniscyaan dan hal itu fitroh. Beragam pemikiran/ideology bermunculan dari segala penjuru. Akhirnya muncul 3 ideologi ke permukaan : 1. Sosialis/komunis dengan Ideolog Karl Mark, 2. Kapitalis/demokrasi dengan ideolog Adam Smith dan 3. Islam dengan ideolog Muhammad. Masing – masing ideologi saling pengaruh dan mempengaruhi memang sifat ideologi seperti itu. Masing – masing ideologi menjanjikan kemakmuran, keadilan kesejahteraan dll. Ketiga ideologi itu pernah diterapkan karena diemban oleh suatu Negara.
Dari penerapan itu bisa dilihat hasilnya dan ditelusuri mana ideolog yang benar/sohih. Mulai biografi ideolognya sampai Negara. Hal itu dapat ditelusuri sejak masa jahiliyah sebelum datangnya Ideologi Islam sampai Islam lagi. Ideologi Islam memimpin kurang lebih 13 abad sejak Negara Islam pertama di Madinah sampai Khilafah Utsmani yang runtuh tahun 1924, sosialis komunis dengan Uni Sovyetnya berakhir dengan keruntuhan uni sovyet, kapitalis demokrasi dengan Amerika Serikat sekarang sedang sekarat. Dilihat dari metode penyebarannya semua disebarkan dengan penjajahan kecuali Islam. Islam justru menolak penjajahan. Karena memang visi Islam adalah rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi semesta alam), hal itu bisa terwujud syaratnya jika dan hanya jika Islam diterapkan secara kaffah dalam Bingkai NKRI (Negara Khilafah Rasyidah Islamiyah). Sering kita dengar “NKRI Harga Mati”. Saya setuju dari segi wilayahnya bahkan kalau bisa bertambah.
Setelah menelusuri berbagai macam ideologi mulai dari biografi ideolog sampai metode penyebaran saya menjatuhkan pilihan ke Ideologi Islam. Sekarang giliran anda? Kenapa harus memilih?Karena hidup adalah pilihan yang akan menentukan keselamatan di dunia maupun di akhirat. Dan itu hanya ada di ideologi Islam. Inilah pentingnya peran mahasiswa Islam untuk mengemban Islam sebagai ideologi di manapun ia berada tidak terbatas ruang dan waktu. Di samping itu banyak sekali peran yang lain terutama pelopor perubahan. Tapi kadangkala ini dicurigai oleh penguasa, sejak pra kemerdekaan sampai kemerdekaan sampai sekarang kemudian muncul kebijakan NKK/BKK di era Orde Baru kemudian diikuti dengan memfokuskan kegiatan mahasiswa pada UKM. Sehingga suara – suara nyaring mahasiswa nyaris tidak terdengar. Saat ini sejatinya mau tumbuh kembali belum sempat bernafas lama untuk mengusung perubahan mau dimatikan lagi dengan RUU Intelejen. Sudah selayaknya sebagai seorang mahasiswa kita wajib menolak RUU Intelejen. Mengingat peran Negara sebagai pelayan rakyat bukan mematai-matai rakyat. Banyak lagi UU yang kelihatan untuk rakyat tapi sejatinya menjerat rakyat misal UU Sisdiknas, UU Minerba dan SDA, UU Kelistrikan, UU PMA dan yang baru disahkan UU BPJS. Dan yang sedang digodok UU PT dan UU Kebudayaan. Dibutuhkan peran mahasiswa untuk mengawal ini bahkan jika menjerat rakyat segera mendesak yang berwenang untuk dicabut. Hanya sebatas itu yang bisa dilakukan mahasiswa, mengingat kita tidak duduk di dewan. Ini sudah terlampaui jauh paling tidak kebijakan kampus. memang keputusan tidak selamanya memuaskan untuk itulah pentingnya Syuro’
Itulah pentingya kita mempunyai pandangan Hidup/ideologi agar hidup kita terarah teratur sehingga selamat sampai tujuan yaitu meraih Ridho Allah SWT. Karena ideologi inilah yang menentukan corak kehidupan mahasiswa. Semua berpulang kepada diri mahasiswa bukanlah Allah SWT pencipta dari seluruh makhluk telah berfirman:
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.(TQS Ar Ra’d:11)

Iklan